Beranda | Artikel
Bukti Cinta Pada Nabi
Kamis, 18 Februari 2021

  1. Kecintaan kita kepada Nabi harus lebih besar daripada kecintaan terhadap diri sendiri dan keluarga.
  2. Diantara faidah mencintai Nabi:
  3. Mendapatkan manisnya iman
  4. Akan menjadikan seseorang bersama beliau di akhirat
  5. Akan memperoleh kesempurnaan iman
  6. Di antara bukti mencintai Nabi:
  7. Mendahulukan dan mengutamakan beliau dari siapa pun
  8. Membenarkan segala yang disampaikan oleh Nabi
  9. Beradab di sisi Nabi 
  10. Ittiba’ (mencontoh) Nabiserta berpegang pada petunjuknya
  11. Berhakim kepada ajaran Nabi 
  12. Membela Nabi
  13. Membela ajaran (sunnah) Nabi 
  14. Menyebarkan ajaran Nabi
  15. Melakukan ajaran yang tiada tuntunannya dalam agama bukanlah bentuk kecintaan yang sebenarnya, walaupun mereka menyebutnya cinta.

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (ikutilah Nabi Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”.”

(Q.S. Ali Imron: 31)


Ada berbagai macam cara seseorang akan mencurahkan usahanya untuk membuktikan cintanya pada kekasihnya. Begitu pula kecintaan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap orang pun punya berbagai cara untuk membuktikannya. Namun tidak semua cara tersebut benar, ada di sana cara-cara yang keliru. Itulah yang nanti diangkat pada tulisan kali ini. Semoga Allah memudahkan dan memberikan kepahaman.

Kewajiban Mencintai Nabi 

Allah Ta’alaberfirman (yang artinya),

“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya’. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (Q.S. At Taubah: 24).

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Jika semua hal-hal tadi lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka yang akan menimpa kalian.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 7/164). Ancaman keras inilah yang menunjukkan wajibnya mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dari makhluk.

Bahkan tidak boleh seseorang mencintai dirinya hingga melebihi kecintaan pada nabi-Nya. Allah Ta’ala berfirman (yanga artinya),

Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.” (Q.S. Al Ahzab: 6).

Mengapa Kita Harus Mencintai Nabi?

Alasan untuk mencintai seseorang dapat kembali kepada 2 alasan :

Alasan pertama: berkaitan dengan sosok yang dicintai

Semakin sempurna orang yang dicintai, maka di situlah tempat tumbuhnya kecintaan. Sedangkan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallamadalah manusia yang paling luar biasa dan sempurna dalam akhlaq, kepribadian, sifat dan dzatnya. Di antara sifat beliau adalah begitu perhatian pada umatnya, begitu lembut dan kasih sayang pada umatnya. Sebagaimana Allah Ta’ala sifatkan beliau dalam firman-Nya,

Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (Q.S. At Taubah: 128)

Alasan kedua: berkaitan dengan faidah yang akan diperoleh jika seseorang mencintai nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antara faidah tersebut adalah:

[1] Mendapatkan manisnya iman

Dari Anas radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

Tiga perkara yang membuat seseorang akan mendapatkan manisnya iman yaitu: Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya; mencintai saudaranya hanya karena Allah; dan benci kembali pada kekufuran sebagaimana benci dilemparkan dalam api. (H.R. Bukhari dan Muslim).

[2] Akan bersama beliau di akhirat

Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya? Orang tersebut menjawab, Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallamberkata,

“(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

[3] Akan memperoleh kesempurnaan iman

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Seseorang tidaklah beriman (dengan sempurna) hingga aku lebih dicintainya dari anak dan orang tuanya serta manusia seluruhnya.” (H.R. Muslim).

Bukti Cinta Nabi

Pertama: Mendahulukan dan mengutamakan beliau dari siapa pun

Hal ini dikarenakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah makhluk pilihan dari Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya Allah telah memilih Kinanah yang terbaik dari keturunan Isma’il. Lalu Allah pilih Quraisy yang terbaik dari Kinanah. Allah pun memilih Bani Hasyim yang terbaik dari Quraisy. Lalu Allah pilih aku sebagai yang terbaik dari Bani Hasyim. (H.R. Muslim).

Di antara bentuk mendahulukan dan mengutamakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari siapa pun yaitu apabila pendapat ulama, kyai atau ustadz yang menjadi rujukannya bertentangan dengan hadits Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam, maka yang didahulukan adalah pendapat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Asy Syafi’i rahimahullah, “Kaum muslimin telah sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena perkataan yang lainnya.” (I’lamul Muwaqi’in ‘an Robbil ‘Alamin, 1/7).

Kedua: Membenarkan segala yang disampaikan oleh Nabi

Termasuk prinsip keimanan dan pilarnya yang utama ialah mengimani kemaksuman (terjaga dari dosa) Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dari dusta atau buhtan (fitnah) dan membenarkan segala yang dikabarkan beliau tentang perkara yang telah berlalu, sekarang, dan akan datang. Karena Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (Q.S. An Najm: 1-4).

Ketiga: Beradab di sisi Nabi 

Di antara bentuk adab kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah memuji beliau dengan pujian yang layak baginya. Pujian yang paling mendalam ialah pujian yang diberikan oleh Rabb-nya dan pujian beliau terhadap dirinya sendiri, dan yang paling utama adalah shalawat dan salam kepada beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Orang yang bakhil (pelit) adalah orang yang apabila namaku disebut di sisinya, dia tidak bershalawat kepadaku. (H.R. Tirmidzi dan Ahmad. At Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shohih ghorib).

Keempat:Mencontoh (Ittiba’) Nabiserta berpegang pada petunjuknya

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (ikutilah Nabi Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”.” (Q.S. Ali Imron: 31)

Kelima: Berhakim kepada ajaran Nabi 

Sesungguhnya berhukum dengan ajaran Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah salah satu prinsip mahabbah (cinta) dan ittiba’ (mengikuti Nabishallallahu ’alaihi wa sallam). Tidak ada iman bagi orang yang tidak berhukum dan menerima dengan sepenuhnya syariatnya. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (Q.S. An-Nisa’: 65).

Keenam: Membela Nabi

Membela dan menolong Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah salah satu tanda kecintaan dan pengagungan. Allah Ta’alaberfirman (yang artinya),

(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah karena diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar. (Q.S. Al Hasyr: 8).

Bentuk membela Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengharuskan kita membela para sahabat dan para istri Nabi.

Rasulullahshallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

Janganlah mencaci maki salah seorang sahabatku. Sungguh, seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka itu tidak menyamai satu mud (yang diinfakkan) salah seorang mereka dan tidak pula separuhnya. (H.R. Muslim)

Ketujuh: Membela ajaran (sunnah) Nabi 

Termasuk membela ajaran beliau shallallahu ’alaihi wa sallamialah memelihara dan menyebarkannya, menjaganya dari ulah kaum yang menyimpang, penyimpangan kaum yang berlebih-lebihan dan ta’wil (penyimpangan) kaum yang bodoh, begitu pula dengan membantah syubhat kaum zindiq (sesat) dan pengecam sunnahnya, serta menjelaskan kedustaan-kedustaan mereka. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallamtelah mendoakan keceriaan wajah bagi siapa yang membela panji sunnah ini dengan sabdanya,

“Semoga Allah memberikan kenikmatan pada seseorang yang mendengar sabda kami, menjaganya lalu menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya. Betapa banyak orang yang diberi berita lebih paham daripada orang yang mendengar.” (H.R. Abu Daud, At Tirmidz, Ibnu Majah dan Ahmad. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Kedelapan: Menyebarkan ajaran Nabi

Di antara kesempurnaan cinta dan pengagungan kepada Nabishallallahu ’alaihi wa sallam ialah berkeinginan kuat untuk menyebarkan ajaran (sunnah)nya. Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat. (H.R. Bukhari) Yang disampaikan pada umat adalah yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan sesuatu yang tidak ada tuntunannya.

Bukti Cinta Nabi Bukanlah dengan Perkara yang Dibuat-buat

Melakukan ajaran yang tiada tuntunannya dalam agama bukanlah bentuk kecintaan yang sebenarnya, walaupun mereka menyebutnya cinta (Mahabbatun Nabi wa Ta’zhimuhu, yang terdapat dalam kumpulan risalah Huququn Nabi baina Ijlal wal Ikhlal), hal. 89). Oleh karenanya, Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Kecintaan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sebenarnya adalah dengan tunduk pada ajaran beliau, mengikuti jejak beliau, melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya, serta bersemangat tidak melakukan penambahan dan pengurangan dalam ajarannya. (Mahabbatun Nabi wa Ta’zhimuhu, hal. 89).

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Disarikan dari artikel https://muslim.or.id/2150-mana-bukti-cintamu-pada-nabi.html

Dimurajaah oleh Ustaz Abu Salman, B.I.S.


Artikel asli: https://buletin.muslim.or.id/bukti-cinta-pada-nabi/